Senin, 27 Oktober 2014

,

ATR 42-300





    Pesawat ATR dibentuk dari penggabungan perusahaan Perancis Aerospatiale dan Italia Aeritalia (sekarang Alenia) pada 1980. Setiap perusahaan sedang membuat pesawatnya sendiri Aeritalia AIT – 230 dan Aerospatiale AS.35 sebelum bergabung menjadi ATR.

Aerospace juga akhirnya bergabung dengan ATR untuk membentuk Aero International Regional (AIR). Desain pertama yang dihasilkan dari perusahaan gabungan ini adalah ATR 42 yang mampu mengangkut 42 sampai 50 penumpang. ATR pertama kali diumumkan pada 1981 dan membuat penerbangan pertamanya pada 16 agustus 1984. Penerbangan komersial pertamanya dilakukan pada desember 1985 untuk Air Littoral Perancis. Pada januari 2007, sebanyak 390 pesawat ini telah diproduksi dengan 11 yang lainnya dalam tahap pemesanan. Pesawat ini menggunakan sayap ‘‘terpasang tinggi‘‘ di bodi pesawat, dua mesin turboprop Pratt and Whitney dan sistem Avionik digital. ATR 42 terbukti sukses sehingga versi yang lebih besar dibuat, ATR 72 diperkenalkan pada 1986.

3.2      Jenis-jenis Pesawat ATR 42
1. ATR 42-200/300
ATR 42-200/300 varian orisinil dari pesawat ini. Bermesin Pratt and Whitney canada PW120 dengan tenaga 2.000 shp (shaft horse power).
2. ATR 42-320
Versi ini adalah pengembangan dari ATR-300 dengan mesin PW121 yang menghasilkan 2.100 shp.
3.  ATR 42-400
Versi ini adalah resmi dari versi penumpang pesawat ATR 42  ‘‘Surveyor‘‘ yang merupakan pengembangan dari versi sebelumnya dan menggunakan baling-baling enam – blade tetapi dengan mesin yang sama PW120/PW121. Operator utama versi ini adalah conviasa dan CSA Czesh Airlines.
4.  ATR 42-500
ATR 42-500 adalah versi produksi saat ini, pesawat ini identik dengan ATR 42-400, akan tetapi bermesin PW127E yang menghasilkan 2.400 shp yang mampu meningkatkan performa dan kecepatannya, serta meningkatkan berat maksimal take off, sehingga dapat mengangkut lebih banyak lebih banyak kargo dan meningkatkan jarak tempuh hingga 1.500 km.
5. ATR 42 – 600
Pada 2 oktober 2007, Stephane Mayer, CEO ATR, mengumunkan peluncuran versi baru ATR 42 di Washington. ATR 42-600 dan ATR 72-600 akan mempunyai sistem Teknologi Terbaru. ATR 42-600 dan ATR 72-600 baru akan dilengkapi dengan teknologi terbaru yang dibangun dengan pengalaman berharga yang didapat dari pesawat sebelumnya, dengan memiliki efisiensi yang lebih tinggi, kehandalan yang baik, konsumsi bahan bakar dan biaya operasi rendah. Pesawat ini akan dilengkapi dengan mesin standard PW127M (mesin baru menyediakan peningkatan 5% tenaga termodinamika saat lepas landas, performa yang lebih baik pada landasan pendek, dalam kondisi cuaca panas dan ketinggian. Dilengkapi dengan “fungsi boost” yang digunakan untuk menambah tenaga, hanya digunakan saat lepas landas. Dek penerbangan dengan kokpit digital dilengkapi dengan lima layar LCD yang akan menggantikan EFIS (Electronic Flight Instrument System) yang dipakai saat ini. Sebagai tambahan, sebuah Multi-Purpose Computer (MPC) akan meningkatkan kemanana penerbangan dan kemampuan operasional. Sistem avionik baru, yang disediakan oleh Thales, akan memyediakan kapabilitas CAT III dan RNP. Pesawat ini juga dilengkapi sistem pencahayaan baru dan kursi yang lebih nyaman dan ruang barang di atas kepala yang lebih besar. Pesawat seri 72-600 akan secara bertahap diperkenalkan pada paruh kedua tahun 2010 Ini akan bermesin PR127M dan akan diresmikan pada semester kedua 2010.



Selasa, 24 Februari 2009

SISTEM FILSAFAT PANCASILA


Filsafat = Philosophy > philein =love; sophos = wisdom
Dasar-dasar Filsafat :
a. Ontologis
b. Epistemologis
c. Aksiologis > logika; etika; estetika
KESATUAN PANCASILA
Kesatuan Organik
Kesatuan Hierarkhis Piramidal
Kesatuan saling meng-kualifikasi (saling menyifati)
Dasar Ontologis Pancasila
Inti setiap sila dari Pancasila, yaitu:
1. Ketuhanan
2. Kemanusiaan
3. Persatuan
4. Kerakyatan
5. Keadilan
Semua wujud tsb bersifat abstrak, umum dan universal
SISTEM ETIKA PANCASILA
Moral = kesusilaan
Moral adalah prinsip-prinsip tingkah laku manusia yang baik dan buruk/ jahat.
Etika adalah cabang filsafat yg membahas tentang tingkah laku manusia dipandang dari sisi baik & buruk /jahatnya.
Etika Pancasila > moral bangsa Indonesia; > etika humanisme religius.


Etika Pancasila bukan humanisme ateis.
Etika Pancasila menolak
> Hedonisme,
> Stoicisme,
> Egoisme.
Dasar, sarana & tujuan Etika Pancasila
Dasar > nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, Kerakyatan dan keadilan.
Sarana = cara > yang baik sesuai dg adat dan kultur bangsa Indonesia.
Tujuan > mewujudkan masyarakat yg berbahagia : lahir-batin; individu-sosial; dunia-akhirat.
Dasar (baik) > sarana (baik) > tujuan (baik).
Uraian Sila Pertama
Ketuhanan Yang Maha Esa > meliputi, mendasari & menjiwai sila-sila 2, 3, 4& 5.
Ketuhanan > adanya kesesuaian tingkah laku manusia dengan sifat-sifat Tuhan.
Tuhan bersifat :
*Maha Esa * Maha Sempurna
*Sebab Pertama * Adanya mutlak
*Tempat bergantung sgl yg ada.
Konsekuensi Sila 1 bagi bangsa Indonesia
Menganut monoteisme
Menolak politeisme, ateisme, deisme & panteisme.
Tidak ada paksaan dalam beragama
Meyakini wujud Tuhan objektif
Mematuhi Tuhan melalui ketaatan pada ajaran agama masing-masing.
Aliran-aliran Ketuhanan
Monoteisme = Ketuhanan Yg Maha Esa. Meyakini bahwa Tuhan mengatur segala yg ada terus menerus.
Politeisme = menyembah kpd banyak Tuhan.
Ateisme = tidak mengakui adanya Tuhan
Deisme = Meyakini bahwa Tuhan ada sebagai pencipta alam semesta dg hukum alamnya pada awal penciptaan saja. Seterusnya alam berjalan dan berkembang menurut hukum alam tanpa campur tangan Tuhan.
Sila ke-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab
Kemanusiaan  adanya kesesuaian perilaku bangsa Indonesia dengan sifat dan hakikat manusia.
Sila ke-2 ini didasari dan dijiwai oleh sila pertama; sekaligus mendasari dan menjiwai sila ke-3, 4 & 5.
Hakikat Manusia  makhluk Monopluralis
 multidimensional
Hakikat Manusia Monopluralis
Satu kesatuan yang harmonis dari :
Kedudukan kodrat :
Sebagai hamba & ciptaan Tuhan
Sebagai pribadi mandiri
Sifat kodrat :
 makhluk individual
 makhluk sosial
Susunan kodrat :
 unsur jiwa (cipta, karsa & rasa)
 unsur raga (hewani, nabati & unorganik)
Adil dan Beradab
Adil  antara hak & kewajiban terpenuhi secara seimbang.
 tindakan & putusan yg objektif
 memandang manusia sama derajatnya di depan hukum.
Beradab  mengikuti norma moral dan adat budaya luhur dengan penuh tanggung jawab
Sila ke-3 : Persatuan Indonesia
Persatuan  kebangsaan / nasionalisme
 satu bangsa
Indonesia  geografis: wilayah Nusantara
 politis: bangsa dan negara
Indonesia
Sila ke-3 didasari & dijiwai oleh sila 1& 2; serta mendasari dan menjiwai sila 4 & 5.



Penjabaran Sila ke-3
Kebangsaan (nasionalisme) Indonesia ti-dak bermakna sempit; bukan Chauvinisme
Menghargai bangsa lain.
Sesuai dg Bhinneka Tunggal Ika.
Bangsa Indonesia tak dpt dibagi-bagi.

Sila ke-4
KERAKYATAN YG DIPIMPIN OLEH HIK-MAT KEBIJAKSANAAN DLM PERMU-SYAWARATAN/ PERWAKILAN.
Sila ini didasari & dijiwai oleh sila 1, 2,& 3 serta mendasari dan menjiwai sila ke-5.
Kerakyatan  Kedaulatan rakyat  De-mokrasi.
 sesuai dg sifat dan hakikat rakyat.

Demokrasi dlm sila ke-4 meliputi:
->Demokrasi politik
->Demokrasi ekonomi
->Demokrasi sosial
->Demokrasi budaya


Hikmat kebijaksanaan = penggunaan pikiran sehat dg selalu mementingkan persatuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.
Permusyawaratan = keputusan diambil sesuai kehendak rakyat dg mufakat atau mayoritas.
Perwakilan = partisipasi seluruh rakyat melalui badan-badan perwakilan.

Sila ke-5 : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Keadilan  adanya keseimbangan pemenuhan kewajiban dan hak.
Sila ke-5 diliputi, didasari & dijiwai oleh sila 1, 2, 3, dan 4.
Keadilan sosial  pemenuhan basic needs.
Mencapai keutamaan dg semangat “memberi”.
Setiap pribadi dlm praktek perbuatan lebih mengutamakan kewajibannya.
Bentuk Keadilan
Keadilan Distributif (membagi):
> Kewajiban negara/ pemerintah kpd war-
ganegara/ rakyat.
Keadilan Legal (kepatuhan & loyalitas):
> Kepatuhan warganegara pd hukum neg.
Keadilan Komutatif (timbal balik):
> Kewajiban & hak antar sesama warga
negara.
Sistem Ideologi Pancasila
Ideologi  sebagai Guiding Principle, menjadi asas pembimbing masyarakat.
Ideologi merupakan sistem nilai dasar yg menja-di cita-cita bersama sesuai dg aspirasi masyarakat penganutnya.
Ideologi Pancasila berfungsi sbg dasar pemersatu bangsa Indonesia secara :
> politis
> sosio-kultural
> psikologis
Ideologi Terbuka
 nilai-nilai & cita-citanya digali dari kekayaan ruhani, moral dan budaya bangsa sendiri;
 tidak dipaksakan dari luar; tidak hanya berdasar pd pandangan seseorang, tetapi hasil musyawarah seluruh lapisan rakyat.
 secara terbuka menjadi milik seluruh rakyat.
3 Dimensi Ideologi Terbuka
1. Dimensi Idealistik  sistematik, ideal, rasional & universal.
2. Dimensi Realistik  sesuai dg realitas masyarakat, sehingga dapat diamalkan scr kongkrit.
3. Dimensi Normatif/ Fleksibilitas  nilai-nilainya membentuk sistem norma yg mendasari tertib hukum negara, dan dapat berlaku sesuai perkembangan zaman.
Ideologi Tertutup
 cita-cita yg berasal dr seseorang/ sekelompok orang untuk dipaksakan pd masyarakat.
 meskipun cita-cita itu tidak sesuai dg kehendak rakyat, namun tetap diberlakukan scr keras, dg ketundukan rakyat sbg pengorbanannya.
 ajarannya mengikuti pandangan pencetusnya scr tertutup; tidak menerima masukan dari pandangan lain yg berbeda.
Perbandingan Ideologi
Ideologi Terbuka :
 Pancasila : mendasarkan pd nilai-nilai reli-
gius, moral dan kultural.
 Liberalisme : mengutamakan pada landasan
rasional untuk kemajuan IPTEK.
Ideologi Tertutup :
 Komunisme : mengutamakan homogenitas
masyarakat dan pemerataan kecukupan
material.

POLSTRAHANKAMNAS

A. PENGANTAR
B. POLITIK HANKAMNAS
C. STRATEGI HANKAMNAS
D. PEMBANGUNAN DAN PENGGUNAAN KEKUATAN HANKAMNAS
A. PENGANTAR
Arti Hankamnas
- Fungsi pemerintahan negara
- Meliputi pertahanan (luar), dan Keamanan (dalam)
- Melibatkan militer dan rakyat

2. Tujuan Hankamnas
Menjaga tetap tegaknya keberadaan bangsa – negara

Tugas Pokok Hankamnas
Membina ketahanan hankam dalam rangka tanas, dengan mengamankan:
- Ideologi Negara
- Kedaulatan dan Kemerdekaan
- Kepentingan Nasional
- Hasil Bangsa Nasional

4. Fungsi Hankamnas

- Membina kesadaran membela negara
- Membina kekuatan hankam yang menyatu dengan
rakyat
- Mewujudkan wilayah negara sebagai satu kesatuan
hankam

5. Dasar Politik Hankamnas
Pertahanan : Defensif Aktif, tidak ofensif
Keamanan : Preventif Aktif, tidak represif

6. Hakikat Hankamnas

Keterlibatan rakyat (Perlawanan Rakyat Semesta) dalam
menghadapi & mengatasi segala macam dan bentuk
ancaman, baik dari luar maupun dari dalam negeri


B. Politik Hankamnas 1. Pengertian
Pernyataan cita-cita bangsa negara tentang pembinaan
secara total dari potensi hankam untuk mencapai tujuan hankam dalam rangka Tunas

2. Prinsip Penuntun

- Jaminan terhadap ketidakpastian
- Bersandar pada kemampuan sendiri
- Politik bebas aktif
- Persatuan-Kesatuan (Wanus)
- Keterlibatan rakyat (Siskamnas)
- Perdamaian dunia
3. Kebijakan Hankamnas
Mencegah perang melalui upaya politik
Mengembangkan penangkalan melalui siskamnas
Mengembangkan kerjasama regional secara fungsional
(Kamhan, bukan Hankam)
Menciptakan Tanreg (Ketahanan Regional)

4. Perumusan Politik Hankamnas
- Waktu harus jatuh - sama (samenvallen) dengan politik
nasional
- Jangkauan jauh ke depan : perlu perkiraan intelejen &
asumsi-asumsi
- Perumusan konkrit berdasarkan kenyataan nyata

Perumusan konkrit berdasarkan kemampuan nyata C. Srategi Hankamnas
Arti
Langkah-langkah pembangunan & penggunaan kekuatan
dan sarana hankamnas dalam rangka pelaksanaan Politik
hankamnas

Tujuan
Mewujudkan daya tangkal terhadap gangguan keamanan
dalam negeri dan ancaman luar negeri dengan membangun
kekuatan hankam, serta meniadakan kerawanan yang ada.
3. Pedoman Pembuatan Renstra Hankam
Prinsip ekonomi dan prioritas
Mencukupi kebutuhan sendiri
Dislokasi kekuatan
Berdasar peraturan perundangan
Penelitian, Pengembangan, dan Teknologi
Militer masuk barak, dan siap sewaktu-waktu dibutuhkan
untuk keamanan
Manajeman hankam
Pemanfaatan peluang
D. Pembangunan dan Penggunaan Hankamnas
Pembangunan Hankamnas : Menciptakan Daya tangkal
(Kekuatan yang memberi keyakinan pada pihak yang mempunyai maksud tidak baik dan melakukan agresi dengan cara apapun, tidak dapat mencapai maksud dan tujuan-nya).

Penggunaan Hankamnas

Pola dasar (diarahkan ke dalam negeri) dengan :

Persuasi (Edukasi) : kerjasama, membangun
Ancaman Langsung : menakuti dengan peringatan lisan
/ gerakan yang dibarengi tindakan
preventif
Penghancuran : Terpaksa

POLSTRANAS


A. PENGERTIAN POLITIK NASIONAL
B. PENGERTIAN STRATEGI NASIONAL
C. DASAR PEMIKIRAN POLSTRANAS
D. FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
E. GARIS BESAR POLITIK NASIONAL
F. STRATIFIKASI POLITIK NASIONAL
G. TEORI STRATEGI
H. ASAS-ASAS POLSTRANAS
I. FAKTOR LINGKUNGAN
J. IMPLEMENTASI POLSTRANAS


A. Pengertian Politik Nasional
Politik (Politea : Polis & Taia)
a. Kebijakan (Pertimbangan yang diambil untuk
menjamin terlaksananya usaha dalam rangka
pencapaian tujuan yang dikehendaki (bersama).
b. Kepentingan Umum

POLNAS : Asas dan Kebijakan dari negara tentang
pembinaan dan penggunaan secara total
dari potensi nasional baik yang potensial
maupun efektif untuk mencapai tujuan
nasional
B. PENGERTIAN STRATEGI NASIONAL Strategi (Strategia : The Art of Generals)
MILITER
1. Karl Von Clausewitz (Prusia)
Pengetahuan tentang penggunaan pertempuran untuk
kepentingan perang, dan perang adalah kelanjutan
dari politik dengan cara lain

2. Antoine Henri Jomini (Swis)
Seni menyelenggarakan perang di atas peta, dan meli-
puti seluruh kawasan operasi
3. Liddle Hart (Inggris)
Seni mendistribusikan dan menggunakan sarana militer untuk tujuan politik

UMUM
Kerangka rencana & tindakan yang disusun dan
disiapkan dalam suatu rangkaian pentahapan,
yang masing-masing tahapan merupakan jawaban
optimal terhadap tantangan baru yang mungkin
terjadi dari langkah sebelumnya, dan keseluruhan proses ini terjadi dalam arah tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya (politik)

Strategi Nasional
Seni dan atau ilmu mengembangkan dan menggu
nakan kekuatan nasional dalam masa damai dan
Perang untuk mencapai tujuan yg ditetapkan politik nasional

C. DASAR PEMIKIRAN POLSTRANAS

- Wanus
- Tanas
- Tatabina Nasional (Sismennas)
D. FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
Ideologi
Politik
Ekonomi
Sosbud
Hankam
Ancaman
E. GARIS BESAR POLITIK NASIONAL
Hakikat
Konsep dan alat perjuangan

Perumusan
Presiden dengan Wakil rakyat (DPR-MPR)

Masalah Pokok
Kebutuhan pokok nasional
Hal-hal yang muncul dalam lingkungan sendiri
Hal-hal yang muncul di luar lingkungan sendiri


= Bahan Pertimbangan
Menilai tepat AGHT
Menilai faktor dinamis dan statis
Menilai kemampuan yang ada
Menilai pengalaman masa lalu

Sifat : Kondisional, misal
Mempertahankan kemerdekaan
Memberantas pemberontakan
Melaksanakan pembangunan

Kepemimpinan
Untuk lebih menjamin tercapainya tujuan nasional
F. STRATIFIKASI POLNAS
G. TEORI STRATEGI
Data / informasi yang up to date : dari Telaah Strategi (mengkaji lingkungan)
Perumusan Alternatif Pilihan : dari Perkiraan Strategi (memformulasikan alternatif-alternatif pilihan strategi)
Cara Bertindak yang Dipilih
Kekuatan yang ada (Teknologi)
Dana
H. ASAS-ASAS POLSTRANAS
Keterpaduan dan prioritas
Manfaat
Kekenyalan dan pandangan jauh ke depan
Pembagian wewenang dan tanggung jawab

FAKTOR LINGKUNGAN

Sistem konstitusi berjalan efektif
Demokrasi tumbuh dengan kuat
Hukum berjalan dengan pasti
Aparatur negara bersih & berwibawa
Hubungan antar kelompok masyarakat berjalan harmonis
J. IMPLEMENTASI POLSTRANAS
Dalam berbagai bidang kehidupan (Baca GBHN)



Polstranas TAMAT

KETAHANAN NASIONAL


A. TANAS SEBAGAI ILMU
B. PENDEKATAN TANAS
C. TIGA WAJAH TANAS
D. ASAS DAN SIFAT TANAS
E. PERBANDINGAN KONSEP TANAS DAN POWER
F. TANAS DALAM MASING-MASING GATRA
G. PERWUJUDAN TANAS
H. POLA DAN PRASARANA MENTAL PENYELENGGARAAN
TANAS
I. HAKIKAT TANAS
A. TANAS SEBAGAI ILMU
SYARAT ILMIAH PENERAPAN DLM TANAS

Objek Formal - Ketahanan Nasional
Objek Material - SKN, yang diformatkan dalam
(gegenstan) ASTRAGATRA
Metode - Metode Astagatra (majemuk)
Sistem - Gatra-gatra tanas terkait satu
sama lain (membentuk matrik)
Universal - Universalitas IPS, beda dengan IPA
(Bermanfaat bagi
kemanusiaan)

MATRIK ASTAGATRA
G S K I P E SB HK

G
S
K
I
P
E
SB
HK
B. PENDEKATAN TANAS
= Pendekatan Keamanan dan Kesejahteraan (Security And Prosperity Approach)
= Bersifat alamiah, sekaligus, dan ada pada setiap hal
= Pembangunan Keamanan harus menciptakan kondisi untuk kesejahteraan, dan sebaliknya
= Bagi negara yang bersangkutan, keduanya merupakan sarana mencapai tunas. Bagi negara musuh merupakan sasaran yang harus dihancurkan, S=S
= Sebagai Sasaran : Dipotong (amputasi) dan dilumpuhkan (paralisis), sehingga negara mengalami pembusukan di / dari dalam negeri (Kolone Kelima)

C. TIGA WAJAH TANAS
Tanas Sebagai Kondisi (Ontologi)
Tanas Sebagai Metode (Epistimologi)
Tanas Sebagai Konsep (Aksiologi)




1. Tanas sebagai kondisi
Kondisi dinamis suatu bangsa (yg meliputi segenap aspek kehidupan nasional yg terintegrasi), berisi keulet-
an dan ketangguhan yg mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dlm menghadapi dan mengatasi semua ATHG, baik yg yg datang dari dalam maupun luar negeri, yg langsung maupun tidak langsung MEMBAHAYAKAN integritas, identitas, kelangungan hidup bangsa – negara, serta perjuangan mencapai Tunas
Penjelasan AGHT
Ancaman : Hal / usaha yg bersifat mengubah kebijakan
dan dilakukan scr konsepsional, kriminal &
politis
Tantangan: Hal / usaha yang bersifat menggugah ke-
mampuan
Hambatan : Hal / usaha yg berasal dr diri sendiri, mele-
mahkan/menghalangi dan tak konsepsional
Gangguan : Hal/usaha yg berasal dr luar, melemahkan/
menghalangi dan tak konsepsional
FORMAT LAIN

Langsung
Keuletan Dalam
Keknas ATHG LAWAN
Ketangguhan Luar
Tak Langsung

MEMBAHAYAKAN
- Integritas
- Identitas
- Kel. Hidup bs-neg
- Perj. Mencapai Tunas
TANAS SEBAGAI METODE (Astagrata)
Cara-cara yg digunakan dlm penyelenggaraan kenega-
an untuk menghadapi dan mengatasi masalah dg asumsi bhw masalah tsb terkait satu dg yg lain, shg berpenga-
ruh scr korelatif pd bidang-bidang kehidupan kenegara-
an
Akar asumsi : Manusia mempunyai kebutuhan yg menye
luruh akan astagatra, dengan kebutuhan alamiah : Kea-
manan dan Kesejahteraan (Teori Kebutuhan) ---> Pende
katan Tanas : Security and Posperity Approach
TEORI KEBUTUHAN

HK G
SB S
M
E K
P I


Manusia membutuhkan tempat, melahirkan gatra Geografi.
TANAS SEBAGAI KONSEP
Tanas mrpk sistem pemikiran dlm rangka penyelenggaraan
kenegaraan yg melibatkan scr terpadu baik aspek alamiah
(Trigatra) maupun aspek sosial (Pancagatra) guna mewu-
judkan Tunas

SISTEM
Pengawasan
Sistem - Informasi Equilibrium
- Umpan balik (homeostatis)
Pengendalian Diri
KONSEP DASAR TANAS
Trigatra (Gatra Alamiah)
- Geografi
- SDA
- Kependudukan
ASTAGATRA
Pancagatra (Gatra Sosial)
- Ideologi
- Politik
- Ekonomi
- Sosial Budaya
- Hankam
PERBANDINGAN KONSEP
Hans Morgenthou (Politic Among Nation)
Goegrafi
SDA (Makanan & Material Kasar)
Kapasitas Industri
Kemampuan Militer (Teknologi, Kepemimpinan, Kua & kuan AP)
Kependudukan (Distribusi & Trend)
Karakter nas
Moral nasional
Kualitas Diplomasi
Kualitas Pemerintahan (9)


Alfred Thayer Mahan (The Influence of Sea Power on History)
Letak Geografi
Bentuk Bumi
Luas Wilayah
Jumlah Penduduk
Watak Bangsa
Sifat Pemerintahan (6)


R. CLINE
Critical mass: Sinergi potensi demografi-geografi
Kemauan nasional
Strategi nasional
Kemampuan ekonomi
Kemampuan militer (5)
D. ASAS DAN SIFAT TANAS 1. Asas Tanas
Keamanan – Kesejahteraan (Nilai intringsik Tanas)
Komprehensif Integral (Wujud persatuan-kesatuan)
Mawas ke Dalam, dan ke Luar (Kemandirian, dan Interaksi -interdependensi dlm lingk. Strategis)
Kekeluargaan (Gotongroyong-kebersamaan)

2. Sifat Tanas
Mandiri (identitas, self- Confidence, self- Relience)
Dinamis (Berubah mnrt waktu, Orientasi masa depan)
Wibawa (Daya tangkal, tak benarkan sikap adu domba)
Konsultatif – Kerjasama (Saling menguntungkan)
E. PERBANDINGAN KONSEP TANAS DAN POWER (ANTROPOLOGI) TANAS MAN POWER Damai hub alamiah man ? Konflik
Dlm penangkalan by suasion

Fisik = Abstrak
Kekuatan ke Dlm, dan kewiba-
waan
Langsung untuk kamjah, sbg
keseluruhan
Totalitas kekuatan fisik dan
abstrak
Dlm penangkalan by promo-
sing punishment
Fisik > Abstrak
Berbentuk kemampuan thd
pihak lain
Langsung untuk keamanan ,
dan survival
Totalitas kekuatan fisik dan
abstrak (sama)
F. TANAS DALAM MASING-MASING GATRA 1. GATRA GEOGRAFI
= Tiga Demensi (Minimal)
- Demensi Geometrik : Posisi-lokasi Geografi
- Demensi Fisik : bentuk wilayah
(-) Negara dikelilingi daratan
(Land Locked Country)
(-) Negara dikelilingi lautan
(Archipelagic State) dan (Island State)
- Demensi Strategis
(-) Geopolitik – Geostrategi
(-) Berubah kerena budaya
2. GATRA SUMBER DAYA ALAM (Di Udara=Angkasa, Darat, dan Laut)
Kategori
(-) Strategic Materials
Materi-materi yg dibutuhkan neg, dan neg tsb memp
materi tsb
(-) Critical Materials
Materi-materi yg dibutuhkan neg, dan neg tsb tidak
memp materi tsb
0 Kebijakan Berasas
- Maksimal
- Lestari
- Berdaya saing
3. GATRA KEPENDUDUKAN
Jumlah Penduduk
(-) Mortalitas
(-) Fertilitas (Natalitas)
(-) Migrasi
0 Komposisi Penduduk
(-) Mortalitas
(-) Fertilitas (Natalitas)
(-) Migrasi
0 Persebaran Penduduk
(-) Merata scr relatif
(-) Memenuhi syarat kamjah

4. GATRA IDEOLOGI
Pengertian
1). Fungsional : Sistem nilai yg menyeluruh & mendalam
yg dipunyai-dipegang oleh bs-neg ttg ba-
gaimana sebaiknya, yaitu scr moral diang-
gap benar & adil, dlm menyelenggarakan-
mengatur perilaku mereka bersama dlm
berbagai segi kehidupan dunia
(a) Tipe Doktriner : Dirinci serinci mungkin
: Diindoktrinasikan
: Pelaksanaan diawasi ketat oleh peme-
rintah / partai


(b) Tipe Pragmatis : Hanya garis besar : Disosialisasikan : Pelaksanaan diawasi bersama oleh pemerintah dan masyarakat
2).Pengertian Struktural
Ideologi dijadikan dasar legitimasi kebijakan peme
rintah, sebab ideologi mrpk nilai tertinggi (paling
mendasar) dlm struktur nilai yg dipunyai masy.

PENGERTIAN Tanas bidang Ideologi (lht: pngrt sbg
kondisi)

Kondisi dinamis suatu bs ..... dsb ..... yg membaha-
yakan kelangsungan kehidupan ideologi bs-neg.
Faktor Yg Berpengaruh
1). Nilai dan Sistem Nilai
- Demensi Realitas
- Demensi Idealitas
- Demensi Fleksibilitas
2). Pelaksanaan Nilai
- Pelaksanaan Subjektif : Oleh setiap warga neg dlm ke
hidupan sehari-hari. (Proses Internalisasi :
Keterpaksaan
Pengertian
Kebiasaan
Kebutuhan)
Pelaksanaan Objektif : Dlm peraturan perundangan di semua bidang kehidupan
Nilai
Hukum


Sistem Struktur (Alat) PS (Ideologi)
Hukum Hukum

Budaya
Hukum
5. GATRA POLITIK Pengertian
Kondisi dinamis suatu bs ... dsb ... yg membahayakan kelangsung-
an kehidupan politik bs-neg

Pola Dasar
Pemerintah (Struktur atas) - SA


Masyarakat (Struktur bawah) - SB

Kecenderungan:
SA = SB : Demokratis (Pemerintah sbg Subsidier)
SA > SB : Otoriter – Totaliter
SA < SB : Anarkhi
FAKTOR YG BERPENGARUH (Fungsi Politik)
=) Mempertahankan Pola
=) Pengaturan – Penyelesaian Ketegangan
=) Penyesuaian : (Pembangunan Politik :
Stabilitas Politik yg Dinamis
Partisipasi Politik
Kelembagaan Politik
Budaya Politik)
=) Pencapaian Tujuan
=) Integrasi
DUA PEMBAGIAN POLITIK 1. Politik Dalam Negeri
Sistem pemerintahan berdasar hukum, tidak kekuasaan
(Struktur Politik)
Mekanisme politik memberi tempat perbedaan pendapat,
tidak konflik, dicegah diktator mayoritas dan tirani mino-
ritas (Mekanisme Politik)
Kepemimpinan nasional mampu mengakomodasi aspirasi
masyarakat (Budaya Politik)
Komunikasi politik antara pemerintah – masyarakat dan
antar kelompok berjalan dg baik (Komunikasi Politik)
2. Politik Luar Negeri
Peningkatan kerjasama internasional yg saling mengun-
tungkan
Penentuan prioritas kerjasama demi kepentingan nas.
Peningkatan citra positif
Antisipasi dampak negatif bagi stabilitas nasional, akibat perubahan dunia
Upaya mempersempit ketimpangan dan ketidakadilan
Perjuangan mewujudkan tatanan dunia baru
Peningkatan SDM / WNI di Luar Negeri
Antisipasi kegiatan diplomasi negatif
GATRA EKONOMI Pengertian
Kondisi dinamis suatu bs ... dsb ... yg membahayakan kelang-
sungan kehidupan ekonomi bs-neg

Faktor yg berpengaruh
Bumi dan Sumber Daya Alam
Tenaga Kerja
Modal
Industrialisasi dan Kesempatan Kerja
Teknologi
Hubungan ekonomi Luar Negeri
Sarana Prasarana
Manajemen
PEMBINAAN BERBAGAI HAL
Sistem ekonomi kerakyatan
Dicegah sistem free fight liberalism, etatisme, mo
nopoli – monopsoni
Struktur ekonomi seimbang (pertanian, industri,
dan jasa)
Kemitraan antar pelaku ekonomi
Pemerataan bangnas dan hasil-hasilnya
Kemampuan bersaing
GATRA SOSBUD
Pengertian
Kondisi dinamis suatu bs ... dsb ... yg membahayakan
kelangsungan kehidupan sosbud bs - neg

Unsur Dasar Masyarakat
Struktur / Lapisan Sosial
Pengawasan Sosial
Media Sosial
Standart Sosial

Klasifikasi Budaya
Budaya Materi
Budaya Rohani
Faktor Yg Berpengaruh
Tradisi : (Fungsi : Keamanan – Kepuasan
Aktifitas – Organisasi
Regulasi
Penjabaran Warisan
Identitas – Konfigurasi
Rekreasi – Relaksasi)
Pendidikan
Kepemimpinan Nasional
Tujuan Nasional
Kepribadian Nasional
GATRA HANKAM
Pengertian
Kondisi dinamis suatu bs ... dsb ... membahayakan
Hankam bs - negara

Faktor Yg Berpengaruh
Doktrin Hankam (Cadek)
Sistem Hankam (Rakyat Terlibat)
- Tanda Keterlibatan
1. Dana – Pajak
2. Proses – MIC (Militery Industrial Complex)
3. Akibat – Fall-Out (Beda: Fall-in)
- Wujud Keterlibatan (Tergantung ANCAMAN)
1. Wajib Militer
2. Partisipasi sebagian rakyat --- bersambung
=) Geografi : Dislokasi kekuatan =) Manusia : Profesional (Kebijakan, Komando/koord., dan fisik)
: Diarahkan kpd jati diri TNI (T. Nasional,
T. Rakyat, dan T. Pejuang)
: Ukuran (expertise, Coorporetness, responbility,
and accuntable)


=) Integrasi AB-Rakyat (Lihat: Membangun hub. Sipil-Militer
yg sehat)
=) Material
=) Iptek
=) Manajemen
=) Pengaruh Luar Negeri
=) Kepemimpinan nasional

MEMBANGUN HUBUNGAN SIPIL – MILITER YG SEHAT
Terkait dg demokrasi
Tiga tingkatan (kaum mil. dg masy., Lembaga mil. dg
lembaga lain, senior mil. dg negarawan)
Tanda hub. S-M yg buruk, jika
- Mil. berperan melebihi batas kewenangan
- Mil. diisolasi masy.
- Terjadi intervensi sipil thd manajemen mil.
Kendali Sipil terhadap militer
- Subjective Civilian Control (memperbesar kekuasaan
sipil atas militer yg dpt berkembang ke arah penya-
lahgunaan militer untuk dukung kekuasaan sipil )
- Objective Civilian Control (memperbesar profesio- nalisme mil. krn menghargai otonomi mil. dlm pe-
nyelenggaraan manajemen internalnya) - Hubu-
ngan ideal krn menempatkan militer sbg alat neg.
Perlu kesepakatan dlm memberi isi dlm hub. tsb
sesuai kondisi lokal.

5. Supermasi Sipil berarti:
- Kekuasaan hukum
- Bukan kekuasaan sipil atas mil., tapi pewadahan dlm
peraturan
- Sipil beri arah kebijakan tanpa campuri masalah opera
sional dan manajemen internal
- Militer tunduk pd hukum, dan akui otoritas sipil hasil pi-
lihan rakyat
6. Format hubungan S-M masa depan - Berdasar nilai moral dan sikap saling percaya - Prinsip kesetaraan, kedekatan, dan kerjasama
- Sikap dan perilaku konstruktif
SIPIL harus (memandang militer sbg) :
1). Salah satu komponen bangsa
2). Alat yg sah dr negara demokrasi
3). Memahami masalah pertahanan dan budaya militer
4). Memberi arah kebijakan, tak campuri internal militer
5). Merasa mempunyai fungsi pertahanan
6). Mendukung dana thd peran militer
7). Membuktikan diri sbg birokrasi yang kapabel dan
efektif


MILITER harus
Tunduk kepada hukum
Menghargai kewenangan sipil
Non partisan dlm politik
Tidak berpolitik praktis
G. PERWUJUDAN TANAS
IDEOLOGI
Kondisi mental bs yg meyakini kebenaran PS sbg
Ideologi neg, dan mengamalkan PS scr konsisten dan berlanjut
POLITIK
Kehidupan politik neg yg sehat, serta mampu me
melihara stabilitas politik yg dinamis
EKONOMI
Kehidupan ekonomi yg mampu memelihara stabi
litas ekonomi, menciptakan kemandirian ekonomi
nasional, dan mewujudkan kemakmuran rakyat

=) SOSIAL BUDAYA
Kehidupan sosial budaya yg rukun, dan mampu menang-
kal penetrasi budaya asing yg tak sesuai dg budaya bs.

HANKAM
Kondisi daya tangkal negara berdasar kesadaran bela ne
gara, yg mampu memelihara stabilitas hankam, menga-
mankan bangnas, dan mempertahankan kedaulatan neg.
dari sgl bentuk ancaman
H. POLA DAN PRASARANA MENTAL PENYELENGGARAAN TANAS
Pola Penyelenggaraan Tanas
- Realistis dan Pragmatis
- Apresiasi tepat ttg kekuatan - kelemahan kondisi Tanas
- Polstranas berdasar pada kondisi Tanas

Prasarana Mental Penyelenggaraan Tanas
- Kemauan - Moral
- Kemampuan - Intelektual
- Pelaksanaan - Aktual

I. HAKIKAT TANAS
Upaya warga negara mewujudkan kemampuan nasional
yang dapat menjamin kelangsungan eksistensi negara
melalui penyelenggaraan (sekaligus) keamanan dan ke-
sejahteraan



TANAS SELESAI

WAWASAN NUSANTARA


A. PENGERTIAN WANAS DAN WANUS
B. TIGA KESADARAN
C. HAKIKAT, KEDUDUKAN, FUNGSI, TUJUAN,
ASAS, DAN ARAH PANDANG
D. CARA BERPIKIR SISTEMATIS
E. LATAR BELAKANG WANUS
F. KONSEP DASAR WANUS
G. IMPLEMENTASI WANUS
H. TANTANGAN IMPLEMENTASI
I. FAKTOR DOMINAN

A. Pengertian Wanas dan Wanus
Wanas

Cara pandang suatu bangsa yang perwujudannya
ditentukan oleh dialog dinamis bangsa tersebut dengan
lingkungan sepanjang sejarahnya, dengan kondisi objektif geografis, dengan kondisi subjektif kebudayaan, dan dengan idealitas yang dijadikan aspirasi bangsa tersebut, yang semua itu menjiwai bangsa tersebut dalam tindak kebijakannya guna mencapai tunas.
WANAS (format lain)
Wanus (Pengertian)
Cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan
lingkungannya berdasarkan ide nasionalnya
(Pancasila) yang merupakan aspirasi bangsa
Indonesia, serta menjiwai tata hidup dan
tindakan kebijakannya dalam mencapai tunas.

(Penjelasan Psikologi dan Filsafat)
B. TIGA KESADARAN
1. Ruang hidup (Lebensraum) dan Waktu
2. Milik
3. Kawan dan Lawan
C. Hakikat, Kedudukan, Fungsi, Tujuan, Asas, dan Arah Pandang
1. HAKIKAT

Persatuan-Kesatuan
(Keutuhan Bangsa)

KEDUDUKAN

sebagai landasan visional bangsa
(tampak pada Struktur Pemikiran bangsa Indonesia)


Struktur Pemikiran

PS * Land. Ideal

UUD * Land. Konstitusional

WANUS * Land. Visional

TANAS * Land. Konsepsional

GBHN * Land. Operasional



3. Fungsi Wanus Pedoman & rambu-rambu dalam pembuatan kebijakan dari atas sampai bawah dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara.
4. Tujuan Wanus

Mewujudkan nasionalisme yang tinggi di semua aspek
kehidupan untuk mencapai Tunas

5. Asas Wanus

Kepentingan yang sama
Keadilan
Kejujuran
Solidaritas
Kerjasama
Kesetiaan terhadap kesepakatan bersama





6. Arah pandang Wanus

ke dalam : persatuan-kesatuan
(keutuhan bangsa)

ke luar : terjaminnya kepentingan
nasional dalam hubungan antar
bangsa-negara.
D. Cara berpikir sistematis
* Manusia makhluk berakal-berakhlak
Manusia menyembah Tuhan, mengabdi kepada kehidupan
masyarakat, dan mengelola alam bagi peningkatan kehidupannya
* Manusia bergerak dalam 2 (dua) bidang kegiatan :
universal filosofis (nilai) dan kehidupan sosial (fakta)
* Muncul dorongan untuk tetap eksis sepanjang masa
Dibutuhkan pandangan yang sama dari warga bangsa agar eksistensinya dapat terpelihara terus menerus
E. Latar Belakang Wanus 1. Lingkungan Sepanjang Sejarah
a).Pangkal Tolak : Archipelago

Kesatuan utuh wilayah yang batas-batasnya ditentukan
oleh laut, dan di dalamnya terdapat pulau-pulau serta
gugusan pulau

ATAU

Gugusan pulau dengan perairan diantaranya sebagai
kesatuan utuh, dengan unsur air sebagai penghubung



b). UUD 1945
Tak ada ketentuan batas wilayah

c). Ordonansi (1939 – 1951)

Tiga (3) mil laut, pantai alamiah
Garis air terendah (garis dasar)
Masing-masing pulau

Indonesia sebagai negara berdaulat, tak berdaulat
penuh

d). Deklarasi Djuanda (Wanus): 1957 – 1982

Dua belas (12) mil laut, pantai alamiah
Garis air terendah (garis dasar)
Pulau terluar

(Teori antar titik / Teori titik ke titik / the point
to point theory)

Perjuangan selama 25 tahun
e). Deklarasi Djuanda tidak sertamerta diterima Dunia Internasional, sebab
1. Teori
Res Nullius : Laut tak ada yang punya, negara
boleh mengklaim laut
Res Communis : Laut milik masyarakat dunia, negara
tak boleh mengklaim laut
2. Legal
Paham archipelago baru dikenal (belum ada dasar
hukumnya, sehingga ditolak pada konferensi HLI
tahun 1958
3. Kepentingan NB (AL) untuk lewat selat/laut yang dalam
- SLOC (Sea Line of Communication) : Garis yang
menghubungkan titik-titik pangkalan angkatan laut
o) Diselesaikan dengan
Perpu No. 4 / 1960 : tentang INNOCENT PASSAGE (IP)
( Pelaksanaan IP : PP. No. 8 / 1962)

=) Dasar Filsafat : Hak pakai (gaduh) - Fungsi sosial
Ide sejarah : Nabi Musa – Firaun
Syarat-syarat : Ijin, di atas air, damai
Sifat internasional : Titik (bukan garis)
Bentuk – wujud : Alur Laut Kepulauan Indonesia
(ALKI)
f) Landas kontinen : 350 mil (1969) g) ZEEI : 200 mil (1980)
CTT :
- Dihargai Tradisional Fising Line (TFL)
- Jika klaim 12 mil saling silang, diambil TITIK TENGAH

Darat Res Nullius Res Communis

12 BLT 200 ZEEI 350 BLK Laut
Lepas

Landas
Kontinen

F. UDARA
=) Teori

Res Nullius : Teori Kedaulatan Udara
Res Communis : Teori Udara Bebas

=) Klaim IND : 36.000 km (1/5 jarak bumi-bulan)
: GSO (Geostasioner orbid)
: Sistem Cerobong (ditarik vertikal
dari batas wilayah ke bawah & ke
atas)
2. Geografi
a). Geopolitik
Geographical Politic
Political Geography (x)
b). Batasan Umum
Politik yang tidak dapat dipisahkan dengan
persoalan yang terjadi di bumi (Kebijakan yang
diambil dalam konstalasi geografi)


c) Batasan INDONESIA
Penguat tentang keadaan & segala sesuatu yang
Berhubungan dengan konstalasi geografis suatu
negara, dengan memanfaatkan keuntungan letak
geografi tersebut, untuk kepentingan
penyelenggaraan pemerintahan nasional, dan
penentuan kebijakan secara ilmiah berdasarkan
realitas yang ada, yang sesuai dengan cita-cita
bangsa tersebut.
d). Pandangan Pakar Geopolitik
F. Ratzel
=) Teori Organisme
Lebensraum
Ekspansi
Hukum Alam
=) Ekspansi Darat & Laut (Infrastruktur Geopolitik)
=) Dilengkapai dengan Suprastruktur Geopolitik: Kekuatan total yang mewadahi pertumbuhan
kondisi geografi

2. R. Kjellen
=) Negara merupakan organisme hidup yang berintelektual
=) Di samping Geopolitik, bidang yang lain adalah
Ekopolitik
Demopolitik
Sosial Politik
Kratopolitik
=) Swasembada (kebudayaan & teknik), tak tergantung
luar
=) Diarahkan : ke dalam : Persatuan-Kesatuan
ke luar : batas ruang hidup yang lebih
baik
3. Karl Haushofer
=) Lebensraum : Hak bangsa atas ruang hidup berdasarkan teori bahwa negara adalah suatu organisme yang tunduk pada hukum biologi
=) Autarki : Pemenuhan kebutuhan sendiri
=) Pan-Region : Pan Amerika - Amerika Serikat
Pan Asia - Jepang
Pan Eropa-Afrika - Jerman
Pan Rusia - Rusia
=) Kekuatan Darat > Laut : Ambil alih teori Heartland
(daerah jantung) dari Halford MacKinder
=) Daerah Perbatasan : tidak tetap (5)
Kesimpulan: (untuk 3 pakar tersebut)
Geopolitik

Pengerahan kekuatan fisik suatu negara ke daerah perbatasan untuk mendapatkan ruang hidup yang lebih luas dan lebih baik dalam rangka mencapai tunas
(Bandingkan dengan pandangan Indonesia)
Catatan : Wawasan Kekuatan
=) Darat / Benua : Halford MacKinder (Teori Heartland)
1. Daerah Jantung
2. Bulan Sabit Dalam
3. Bulan Sabit Luar
=) Laut : Alferd Thayer Mahan
1. Letak Geografi
2. Wujud Bumi
3. Luas Wilayah
4. Penduduk
5. Watak Nasional
6. Sifat Pemerintahan
=) Udara : Giulio Douhet W.B. Mitchell, dll
Kekuatan udara sangat menentukan keberadaan negara

=) Kombinasi : Nicholas J. Spykman (Teori Rimland =
Daerah Batas)

1. Rimland
2. Daerah Jantung
3. Shore Continents and Islands
4. Oceanic Belt
5. New World
GEOSTRATEGI (Dari Geopolitik)
=) Kebijakan pelaksanaan dalam menentukan tujuan
dan sarana, serta cara menggunakan sarana tersebut
guna mencapai tunas dengan memanfaatkan konstalasi
geografis negara

=) Geostrategi Indonesia : Posisi Silang
1. Fisik Geografis (Antara dua
benua-samudra)
2. Sosial (Antara utara dan se-
latan)

KATEGORI UTARA SELATAN
Demografi Padat Jarang
Ideologi Komunis Liberal
Politik Dik. Proletariat Dem Parlementer
Ekonomi Terpusat Kapitalis
Sosial Sosialisme Individualisme
Budaya Timur Barat
Hankam Kontinental Maritim (BTS)

=) SIKAP negara berdaulat (Jadi OBJEK lain kekuatan &
pengaruh, ATAU memainkan sebagai SUBJEK)

3. KEBUDAYAAN
Kebudayaan mempengaruhi wawasan:
=) Budaya tercipta oleh faktor-faktor organobiologis, lingk.
alam, lingk. psikologis, dan lingk. sejarah
=) Budaya merupakan keseluruhan cara hidup masyarakat
yang manifestasinya tampak dalam tingkah laku (dan
hasil tingkah laku yang dipelajari). (Wujud budaya: ide,
perilaku, dan fisik)
=) Budaya merupakan warisan yang bersifat memaksa bagi
masyarakat yang bersangkutan, dari generasi ke
generasi, sehingga diterima lebih secara emosional
(daripada rasional), dan mengikat secara kuat ke dalam
4. IDEALITAS : Paham Kekuasaan
=) Indonesia : Kekuasaan untuk damai dan merdeka
Pandangan Pakar tentang Kekuasaan (Budak : Untuk
Apa?)
1. Machiavelli (abad 17)
The Prince : Menghalalkan segala cara
Devide et Impera
Seperti binatang: Kuat-Menang
2. Napoleon Bonaparte (abad 18)
- Mengimplementasikan ajaran Machiavelli secara
sistematis ajaran Machiavelli
- Perang bersifat total, harus dikerahkan segala
kekuatan nasional
- Kekuatan politik harus didukung kekuatan logistik dan ekonomi nasional, kondisi sosial budaya (Iptek) demi terbentuknya kekuatan pertahanan dan keamanan
3. Clausewitz

Buku : Vom Kriege : Tentara Perang

Perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara lain (Perang adalah sah untuk mencapai tunas)

Ctt : Sekarang Perang adalah sarana/alat dari politik



4. FEUERBACH dan F. HEGEL

-) Materialsme Feuerbach & Dialektika (Teori Sintesis =
konflik) F. Hegel melahirkan Kapitalisme & Komunisme
(dalam situasi pasar bebas, abad 17)

-) Pasar Bebas : Keberhasilan ekonomi negara ditentukan
oleh surplus perdagangannya (ekonominya), terutama
diukur dengan EMAS. (Memicu Kolonialisme – 3 G)


5. LENIN (Abad 19)
Memodifikasi ajaran Clausewitz (3)

Perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara kekerasan. Revolusi adalah sah untuk mengkomuniskan dunia
F. KONSEP DASAR WANUS
Wadah Geografi
(Contour)

Konsep
Dasar
Isi Sis. Konstitusi
Wanus (Content)
(1) Batiniah
(Ideologi)
Konsep Tatalaku
Pelaksanaan (Conduct) Lahiriah
(Manajemen)
G. IMPLEMENTASI WANUS
=) Wanus tercermin dalam pola pikir, sikap, dan tindak
yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas
kepentingan pribadi dan golongan
=) Empat bidang : Politik
Ekonomi
Sosial Budaya
Hankam
1. KESATUAN POLITIK
- Kebulatan wilayah nasional dengan segala isi &
kekayaannya merupakan satu kesatuan wilayah,
wadah, dan menjadi modal milik bangsa

- Pancasila merupakan satu-satunya ideologi bangsa - Bangsa Indonesia secara psikologis merasa satu, senasib, dan bertekad mencapai cita bangsa
- Bahasa daerah, agama, dan suku merupakan kesatuan
bangsa
- Seluruh nusantara merupakan satu kesatuan hukum
nasional yang mengabdi kepada kepentingan nasional
(Tercipta iklim penyelenggaraan negara yang sehat &
dinamis, dan terwujud dalam pemerintahan yang kuat,
aspiratif, terpercaya sebagai penjelmaan kedaulatan
rakyat)

2. KESATUAN EKONOMI
Kekayaan negara baik potensial maupun efektif adalah
modal-milik bersama. Kebutuhan hidup tersedia merata
di seluruh wilayah
- Tingkat perkembangan ekonomi serasi & seimbang di seluruh daerah, tanpa meninggalkan ciri-ciri khas dae- rah dalam pengembangan ekonominya
( Tercipta tatanan ekonomi yang menjamin pemenuhan
dan peningkatan kesejahteraan & kemakmuran
rakyat secara merata dan adil )

3. KESATUAN SOSIAL BUDAYA

- Masyarakat Indonesia adalah satu, kehidupan bangsa
merupakan kehidupan yang serasi, selaras, dan
seimbang dalam setiap tingkatkemajuan
- Kebudayaan Indonesia pada dasarnya adalah satu.
Keragaman budaya merupakan kekayaan budaya
bangsa, menjadi modal bangsa pengembangan budaya
bangsa dan hasilnya dapat dinikmati bersama.

(Tercipta sikap lahir batin yang mengakui & menghormati segala bentuk perbedaan sebagai kenyataan hidup sekaligus anugrah Tuhan)

4. KESATUAN HANKAM
Ancaman terhadap satu daerah pada dasarnya
merupakan ancaman terhadap seluruh bangsa-negara
Setiap WNI mempunyai hak-kewajiban sama dalam rangka membela negara
(Tercipta kesadaran membela negara
berdasarkan cinta tanah air)

H. TANTANGAN IMPLEMENTASI
1. Pemberdayaan masyarakat (John Naisbit : Global
Paradoks : Rakyat diberi peran sebesar-besarnya)

2. Dunia tanpa batas (Kenichi Omahe: Borderless World
and The End of Nation State: Pemda perlu diberi peran
lebih besar)


3. Era Baru Kapitalisme a). Lester Thurow : The Future of Capitalism) :
Diciptakan keseimbangan antara individu-kelompok
dan masyarakat, antara negara maju dan berkembang
b). Hesel Handerson: Building Win- Win World: Dari
perang ekonomi menjadi masyarakat dunia yang
bekerja sama.
4. Kesadaran warga negara. (Ian Marison : The Second Curve: Muncul peran lebih besar dari pasar, konsumen & teknologi, untuk mewujudkan masyarakat baru

TEORI tersebut TIDAK MENYEBUT PERSATUAN-KESATUAN
(Keutuhan Bangsa) ----- WANUS MASIH RELEVAN

I. FAKTOR DOMINAN

- Keteladanan Kepemimpinan nasional
- Pendidikan berkualitas & bermoral kebangsaan
- Media massa dengan informasi & kesan positif
- Keadilan dalam penegakkan hukum


WANUS SELESAI

Senin, 23 Februari 2009

IMPLEMENTASI PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DI DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA BERNEGARA DAN BERMASYARAKAT DI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA


Dalam perjalanan sejarah eksistensi Pancasila sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia mengalami berbagai macam interpretasi dan manipulasi poliltik sesuai dengan kepentingan penguasa demi kokoh dan tegaknya kekuasaan yang berlindung di balik legitimasi ideology Negara Pancasila. Dengan kata lain Pancasila tidak lagi dijadikan Pandangan hidup bangsa dan Negara Indonesia.

Berdasarkan kenyataan tersebut diatas gerakan reformasi berupaya untuk mengembalikan kedudukan dan fungsi Pancasila yaitu sebagai dasar Negara Republik Indonesia yang direalisasikan dalam TAP SI MPR No. XVIII/MPR/1998 disertai dengan pencabutan P-4 dan sekaligus juga pencabutan Pancasila sebagai satu-satunya azas bagi Organisasi Sosial Politik (ORSOSPOL) di Indonesia.

Pancasila merupakan pandangan hidup dan falsafah bangsa Indonesia yang mana dahulu pernah akan digantikan keberadaannya dari hati sanubari rakyat Indonesia oleh paham ideology lain. Pancasila adalah pandangan hidup yang ber-Ketuhanan Maha Esa yang artinya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan tujan yang wajib percaya dan menyembah-NYA. Pancasila menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, persatuan, kesatuan, keserasian, keselarasan dan keseimbangan. Pancasila bersifat akomodatif dan menganut system pemerintahan demokrasi berdasarkan kebijaksanaan musyawarah dan mufakat. Pancasila diamalkan melalui pembangunan nasional dalam empat bidang politik, ekonomi, social budaya dan pertahanan keamanan. Dengan mendalami nilai-nilai luhur Pancasila tentu kita sadar dan yakin akan keunggulan Pancasila.

Hal-hal tersebut diatas merupakan modal utama untuk menangkal bahaya laten komunisme ataupun laten-laten yang lain. Cara pandang masyarakat mengenai Pancasila mulai masa Orde Baru sampai Orde Reformasi mengalami perkembangan persepsi yang berbeda. Masa Orde Baru dimana penerapan Pancasila dilaksanakan secara konsisten dan terarah walaupun masih banyak penyimpangannya. Dari dulu hingga sekarang kita kenal dengan Wawasan Nusantara yang artinya cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungan nya kini lambat laun pudar dan hampir-hampir siswa sekolah kurang mengerti akan hal ini, itu merupakan salah satu contoh kemunduran dari penerapan dari nilai-nilai Pancasila. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila yang biasa kita kenal dengan P4 mungkin merupakan salah satu contoh upaya pemerintah dalam menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila tapi pada masa reformasi nilai-nilai tersebut mulai pudar dan hilang dalam pandangan masyarakat Indonesia. Pada masa reformasi penghayatan dan pengamalan Pancasila rupanya mulai hilang dari benak warga Indonesia. Ancaman disintegrasi bangsa merupakan salah satu contoh kurangnya pemahaman terhadap nilai luhur Pancasila. Toleransi beragama pun juga mengalami pengapuran. Jadi bila dibandingkan dengan masa reformasi penerapan nilai-nilai luhur Pancasila lebih baik pada masa orde baru yang pelaksanaannya dilakukan dengan konsisten serta tanggungjawab. Tapi mengapa TAP MPR No. 2 tahun 1978 di cabut tanpa harus ada formula penggantinya? Banyak sekali permasalahan yang harus kita sikapi dengan cermat mengenai perlunya kita memahami Pancasila dan bagaimana menjalankannya secara murni dan konsekuen ?

PANCASILA dan PERMASALAHANNYA

Isu SARA

Realitas budaya nusantara yang plural berdasarkan kemajemukan komunitas etnis yang hidup di atas pulau atau gugusan pulau yang dipisahkan oleh lautan menunjukkan berbagai macam perbedaan. Perbedaan peta geografis dan etnis-kultural inilah yang berpotensi sebagai sumber dari berbagai jenis konflik yang timbul secara alamiah atau yang dengan sengaja direkayasa menjadi konflik. Jenis konflik ditimbulkan, antara lain, oleh isu SARA dan oleh adanya ketegangan antara keinginan untuk mempertahankan diri sebagai komunitas lokal pada satu sisi, dan pada sisi lain lemahnya perekat keadilan yang seharusnya dapat merekat seluruh komunitas agar dapat mempersatukan diri sebagai sebuah bangsa dengan makna dalam ungkapan bhinneka tunggal ika sebagai jatidiri.
Secara alamiah timbul konflik pada sebagian komunitas nusantara yang ingin mempertahankan identitas komunalnya dalam konteks etnis-kultural, termasuk SARA, menghadapi nasionalisme melalui arus transformasi politik yang ingin membangun sebuah masyarakat baru, yaitu masyarakat bangsa dari seluruh komunitas nusantara yang hidup di dalam bekas wilayah jajahan Hindia Belanda yang heterogenik. Berdasarkan keinginan alamiah inilah pula, maka ada elite yang ingin daerahnya merdeka sebagai negara atau merdeka di dalam status negara federal setelah proklamasi 17 Agustus 1945.
Di antara konflik yang paling meresahkan ialah konflik yang bersumber dari isu SARA dan isu yang ditimbulkan oleh kecenderungan kuat sebagian warga dan kelompok komunitas nusantara yang menolak persatuan Indonesia (NKRI) atau tak menginginkan terbangunnya masyarakat baru yang bernama bangsa Indonesia. Konflik di dalam membangun sebuah masyarakat bangsa yang utuh, aman, dan damai ditimbulkan oleh transformasi politik yang diwujudkan melalui pembangunan bangsa secara tak adil atau yang menyimpang dari tujuan nasional sebagai manifestasi dari kepentingan bersama.
Secara fenomenal dapat disimak bahwa sebagian kerusuhan dan pemberontakan di sejumlah daerah bermuatan bibit konflik yang berisu SARA atau berisu separatisme. Sebagian pemberontakan yang bernuansa separatisme disebabkan oleh kesenjangan dari proses pembangunan dan hasilnya antara pusat dan daerah. Keadilan yang tidak dapat atau kurang dinikmati, baik di dalam partisipasi pembangunan, maupun di dalam penikmatan hasil pembangunan antara pusat dan daerah, telah melahirkan kesenjangan yang mengundang konflik dan ketegangan yang berkembang menjadi pemberontakan.

Pemadaman pemberontakan terhadap gerakan separatis di sejumlah daerah, seperti RMS, PRRI/Permesta, Daud Beureu di Aceh, Kartosuwiryo di Jabar, Kahar Muzakkar di Sulsel, dan gerakan OPM, secara militer atau secara represif tidak menyelesaikan akar persoalan. Selama keadilan yang menjadi substansi utama yang dapat merekat segenap masyarakat plural di atas bumi nusantara gagal diwujudkan, selama itu potensi konflik akan tetap mengancam, termasuk ancaman politik yang bernuansa separatisme.
Berbagai kerusuhan yang bernuansa SARA selama ini dan api pemberontakan di tahun 50-an dan sesudahnya beraroma separatisme sudah berhasil dipadamkan. Namun, bara apinya mungkin saja masih tersisa. Lanjutan tindakan pemulihan kehidupan masyarakat melalui pembangunan yang berkeadilan dan berkeseimbangan adalah jawaban jitu untuk benar-benar memadamkan seluruh sumber api kerusuhan dan pemberontakan dalam berbagai bentuknya. Terwujudnya keadilan akan menyempitkan kesenjangan sebagai lahan subur bagi tumbuh dan berkembangnya potensi konflik, baik yang bernuansa SARA, maupun yang bermuatan isu separatisme.

Isu-isu SARA yang saat ini sedang menjadi perbincangan di kalangan publik tentang maraknya paham-paham sesat yang sangat meresahkan bahkan sampai kasus penistaan agama yang dilakukan oleh salah satu ormas agama tertentu tehadap agama lain sangat mengganggu ketentraman kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Bila kita bertolak dari dasar Negara kita yaitu Pancasila sebagai Pandangan hidup bangsa Indonesia khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa telah dijelaskan secara gamblang bahwa setiap warganegara Indonesia diwajibkan memeluk agama yang telah ada untuk diyakini. Dalam pengertian inilah maka Negara menegaskan dalam Pokok Pikiran ke – IV UUD 1945 bahwa “Negara berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa atas dasar Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Pada proses reformasi dewasa ini di beberapa wilayah Negara Indonesia terjadi konflik sosial yang bersumber pada masalah SARA khususnya masalah agama. Hal ini menunjukkan kemunduran bangsa Indonesia kearah kehidupan beragama yang tidak berkemanusiaan dan betapa melemahnya toleransi kehidupan beragama yang berdasarkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Bila kita mengerti dan memahami apa yang telah dijabarkan dalam butir-butir Pancasila tentunya kasus-kasus konflik social yang menjurus pada SARA tentunya dapat kita hindari. Dengan semangat saling menghormati perbedaan keyakinan, toleransi beragama dan tenggang rasa tentu kita bisa mewujudkan suasana kehidupan yang harmonis dan penuh kerukunan menuju Indonesia yang Merdeka seutuh-utuhnya.

Hak Asasi Manusia (HAM)

Masalah HAM menjadi salah satu pusat perhatian manusia sejagat, sejak pertengahan abad kedua puluh. Hingga kini, ia tetap menjadi isu aktual dalam berbagai peristiwa sosial, politik dan ekonomi, di tingkat nasional maupun internasional.

Menurut konsiderans UU Hak Asasi Manusia No. 39 tahun 1999 bahwa yang dimaksud dengan hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-NYA yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Disamping itu menurut UU No. 39 ttahun 1999 tersebut juga menentukan Hak Asasi Manusia adalah hak-hak dasar atau hak-hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak Asasi ini menjadi dasar daripada hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang lain.

Hak Asasi tidak dapat dituntut pelaksanaannya secara mutlak karena penuntutan pelaksanaan hak asasi secara mutlak berarti melanggar hak asasi yang sama dari orang lain.

Menurut sejarahnya asal mula hak asasi manusia ialah dari Eropa Barat yaitu Inggris. Tonggak pertama kemenangan hak asasi manusia ialah pada tahun 1215 dengan lahirnya Magna Charta. Perkembangan berikutnya ialah adanya revolusi Amerika 1776 dan revolusi Perancis 1789. Dua revolusi dalam abad ke XVIII ini besar sekali pengaruhnya pada perkembangan hak asasi manusia.

Hak Asasi Manusia yang kemudian disingkat HAM adalah permasalahan yang selama dua atau tiga tahun terakhir menjadi bahan perbincangan masyarakat. Banyak contoh kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Pelanggaran HAM pada saat pelaksanaan jajak pendapat Referendum Timor Timur. Kasus Daerah Operasi Militer (DOM) di daerah Serambi Mekkah Aceh yang banyak menelan korban jiwa dari pihak masyarakat sipil dan disinyalir banyak di lakukan oleh oknum-oknum tentara yang notabene adalah para aparat-aparat Negara sampai dengan kasus sengketa tanah yang melibatkan salah satu unsur alat pertahanan negara yaitu tentara dalam hal ini Marinir dengan warga Alas Tlogo Pasuruan. Hal ini sangat bertentangan dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Banyak tokoh yang dinyatakan sebagai tersangka tapi pada kenyataannya para pelaku masih bebas berkeliaran sementara keluarga korban menanti kepastian hukum tentang apa yang dialaminya. Tapi perlu kita ketahui sebenarnya kesalahan maupun pelanggaran itu juga tidak sepenuhnya dilakukan oleh para oknum tentara. Masyarakat sipil mempunyai hak untuk hidup tentara pun demikian. UU No. 39 tahun 1999 juga menentukan Kewajiban Dasar Manusia yaitu seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia. Seperti yang tertuang dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 28i ayat 5 (amandemen ke 2) yang berbunyi “Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip Negara hukum yang demokratis maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan”. Pasal 28j ayat 1 dan 2 (amandemen ke 2) yang intinya setiap manusia wajib menghormati hak asasi manusia dan wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Jadi dalam masalah ini kita perlu secara cermat menanggapi kasus-kasus seperti ini karena permasalahan yang demikian sangatlah kompleks dan sangat rentan terhadap perpecahan atau ancaman diintegrasi bangsa.

Hak Asasi Manusia: Makna dan Historisitas.

Dari membandingkan beberapa definisi tentang hak, ia dapat dimaknai sebagai sesuatu nilai yang diinginkan seseorang untuk melindungi dirinya, agar ia dapat memelihara dan meningkatkan kehidupannya dan mengembangkan kepribadiannya.[i] Hak itu mengimplisitkan kewajiban, karena pada umumnya seseorang berbicara tentang hak manakala ia mempunyai tuntutan yang harus dipenuhi pihak lain. Dalam pergaulan masyarakat, adalah mustahil membicarakan tanpa secara langsung mengaitkan hak itu dengan kewajiban orang atau pihak lain.

Dari sejumlah hak-hak manusia itu ada yang dinilai asasi. Dalam kata asasi terkandung makna bahwa subjek yang memiliki hak semacam itu adalah manusia secara keseluruhan, tanpa membedakan status, suku, adat istiadat, agama, ras, atau warna kulit, bahkan tanpa mengenal kenisbian relevansi menurut waktu dan tempat. Dengan demikian, hak asasi manusia haruslah sedemikian penting, mendasar, diakui oleh semua peradaban, dan mutlak pemenuhannya.

Kesadaran akan hak asasi dalam peradaban Barat timbul pada abad ke-17 dan ke 18 Masehi sebagai reaksi terhadap keabsolutan raja-raja kaum feodal terhadap rakyat yang mereka perintah atau manusia yang mereka pekerjakan. Sebagaimana dapat diketahui dalam sejarah, masayarakat manusia pada zaman dahulu terdiri dari dua lapisan besar : lapisan atas, minoritas, yang mempunyai hak-hak; dan lapisan bawah, yang tidak mempunyai hak-hak tetapi hanya mempunyai kewajiban-kewajiban, sehingga mereka diperlakukan sewenang-sewenang oleh lapisan atas. Kesadaran itu memicu upaya-upaya perumusan dan pendeklerasian HAM, menurut catatan sejarah HAM berkembang melalalui beberapa tahap. Hal ini terutama dapat dilihat dalam sejarah ketatanegaraan di Inggris dan Prancis. Yaitu ditandainya dengan keberhasilan rakyat Inggris memperoleh hak tertentu dari raja dan pemerintahan Inggris yang dituangkan dalam berbagai piagam seperti: Petition Of Rights tahun 1628, Habeas Corpus Act tahun 1679 dan Bill Of Rights tahun 1689 serta dikeluarkannya Declaration des D du Citoyen tahun 1789 di Prancis.[ii] Selain dua negara di atas, Bill Of Rights juga terjadi di negara bagian Virginia tahun 1776, deklarasi kemerdekaan 13 Negara Bagian Amerika Serikat tahun 1789.

Setelah berakhirnya perang dunia I dan II dibentuk PBB dan dikeluarkan pernyataan HAM internasional : Universal Declaration of Human Rights pada tanggal 10 Desember 1948, dan disusul dengan Covenant on Civil and Political Rights tahun 1966 dan Covenant on Economic, Social and Cultur Rights tahun 1966 dan Optional Protocol to he Covenant on Civil and Political Rights tahun 1966. Kempat dokumen HAM internasional sering disebut sebagai The International Bill Of Human Rights.

Dokumen-dokumen tersebut merupakan instrumen normatif HAM internasional yang harus dihormati dan dipatuhi oleh setiap negara anggota PBB. Bahkan dalam Covenant on Civil and Political Rights dimuat beberapa HAM yang penerapannya tidak dapat diperkecualikan meskipun dalam keadaan sabagai luar biasa. Apapun kedaaannya hak-hak yang dianggap sebagai intisari dari HAM harus tetap dihormati.

Adanya pengakuan dan perlindungan kedudukan pribadi dalam instrumen HAM tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam nilai dan norma yang mendasari hubungan antar negara. HAM yang dulu lebih merupakan urusan dalam negri masing-masing negara telah bergeser menjadi nilai dan hubungan internasional, yaitu dibuktikan dengan adanya persetujuan semua negara, setidak-tidaknya negara-negara anggota PBB terhadap deklarasi, konvensi dan konvenan HAM internasional.

Deklarasi PBB tersebut dapat diklasifakasikan dalam tiga katagori:

Hak sipil dan hak ploitik, hak persamaan /kemerdekaan sejak lahir (pasal 1), hak untuk hidup (pasal 3), hak untuk memperoleh keadilan didepan hukum (pasal 6-8), hak untuk memperoleh perlakuan yang manusiawi (tidak sewenang-wenang) dalam penyelesain tertib sosial (pasal 5, dan 9-11), hak untuk bebas bergerak, mencari suaka ke negara lain, dan menetapkan suatu kewarganegaraan (pasal 13-15), hak untuk menikah dan membangun keluarga (pasal 16), hak untuk bebas berpikir, berkesadaran dan beragama (pasal 18-19), dan hak untuk berkumpul dan berserikat (pasal 20-21).

Hak eknomi dan sosial (pasal 22- 28) antara lain; hak untuk bekerja dan memeperoleh upah yang layak, hak untuk beristirahat dan berkreasi, hak untuk mendapat liburan periodik dengan (tetap) mendapat upah, hak untuk menikmati standar hidup yang cukup, termasuk perumahan dan pelayanan medis, hak untuk memperoleh jaminan sosial, hak untuk memperoleh pendidikan, dan hak untuk berperan serta dalam kegiatan kebudayaan.

Dan hak kolektif mencakup hak semua bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri, hak semua ras dan suku bangsa untuk bebas dari segala bentuk diskrimainasi, hak masyarakat untuk bebas dari neo-kolonialisme (pasal 28-30).

Hak-hak asasi manusia di atas, walaupun merupakan dekalarasi PBB dimana seluruh bangsa dari pelbagai penjuru dunia terlibat, namun harus diakui berasal dari buah pemikiran dan anak peradaban barat.

Pengaturan HAM di Indonesia dapat dilihat dari berbagai peraturan perundang-undangan, khususnya dalam pembukaan dan batang tubuh Undang-undang Dasar 1945 serta peraturan perundangan lain diluar UUD 1945, misalnya HAM yang berhubungan dengan proses peradilan dalam UU No. 14 Tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman dan UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP dan sebagainya. Sedangkan konsepsi HAM bangsa Indonesia dapat dilihat dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1998 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan tercantum dalam Bidang Pembangunan Hukum yang menyatakan bahwa :

"HAM sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa adalah hak-hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia dan Meliputi : hak untuk hidup layak, hak memeluk agama dan beribadat menurut agama masing-masing, hak untuk berkeluarga dan memperoleh keturunan melalui perkawinan yang sah, hak untuk mengembangkan diri termasuk memperoleh pendidikan, hak untuk berusaha, hak milik perseorangan, hak memperoleh kepastian hukum dan persamaan kedudukan dalam hukum, keadilan dan rasa aman, hak mengeluarkan pendapat, berserikat dan berkumpul."

Dari latar historis beberapa perumusan dan dekalarasi HAM (yaitu: perlindungan terhadap kebebasn individu di depan kekuasan raja, kaum feodal atau negara yang domina atau tersentaralisasi), dan kesadaran ontologis tentang struktur deklarasi PBB, serta kesadaran historis tentang peradaban yang melahirkannya, dapatlah diidentifikasi karektaristik utama HAM. Perspektif Barat dalam melihat HAM dapat disebut bersifat antrhoposentris, dengan pengertian bahwa manusia dipandang sebagai ukuran bagi segala sesuatu karena ia adalah pusat atau ttitik tolak dari semua pemikiran dan perbuatan. Produk dari perspektif antrhoposentris ini tidak lain adalah individu yang otonom.

Hak dapat dimaknai sebagai suatu nilai yang diinginkan seseorang untuk melindungi dirinya, agar ia dapat ia memelihara dan meningkatkan kehidupannya dan mengembangkan kepribadiannya. Ketika diberi imbuhan asasi, maka ia sedemikian penting, mendasar, diakui oleh semua peradaban, dan mutlak pemenuhannya.

Setelah melalui proses yang panjang, kesadaran akan hak asasi manusia mengglobal sejak 10 Desember 1948 dengan ditetapkannya oleh PBB Deklarasi tentang Hak Asasi Manusia. Deklarasi PBB ini, juga deklarasi-deklarasi sebelumnya, dirancang untuk melindungi kebebasan individu di depan kekuasaan raja, kaum feodal, atau negara yang cenderung dominan dan terdesentralisasi. Karena itu, deklarasi-deklarasi tersebut, yang nota bene anak peradaban Barat, melihat hak-hak asasi manusia dalam perspektif anthroposentris.

Dalam hal pelaksanaan hak-hak asasi manusia dalam Pancasila yang perlu mendapat perhatian kita adalah bahwa disamping hak-hak asasi, wajib-wajib asasi harus kita penuhi terlebih dahulu dengan penuh rasa tanggungjawab. Hak-hak asasi manusia dilaksanakan dalam rangka hak-hak serta kewajiban warga Negara.

Krisis Ekonomi

TAHUN 1998 menjadi saksi bagi tragedi perekonomian bangsa. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Mungkin dia akan selalu diingat, sebagaimana kita selalu mengingat black Tuesday yang menandai awal resesi ekonomi dunia tanggal 29 Oktober 1929.

Hanya dalam waktu setahun, perubahan dramatis terjadi. Prestasi ekonomi yang dicapai dalam dua dekade, tenggelam begitu saja. Dia juga sekaligus membalikkan semua bayangan indah dan cerah di depan mata menyongsong milenium ketiga.

Selama periode sembilan bulan pertama 1998, tak pelak lagi merupakan periode paling hiruk pikuk dalam perekonomian. Krisis yang sudah berjalan enam bulan selama tahun 1997,berkembang semakin buruk dalam tempo cepat. Dampak krisis pun mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat, dunia usaha.

Dana Moneter Internasional (IMF) mulai turun tangan sejak Oktober 1997, namun terbukti tidak bisa segera memperbaiki stabilitas ekonomi dan rupiah. Bahkan situasi seperti lepas kendali, bagai layang-layang yang putus talinya. Krisis ekonomi Indonesia bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara.

Seperti efek bola salju, krisis yang semula hanya berawal dari krisis nilai tukar baht di Thailand 2 Juli 1997, dalam tahun 1998 dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi, berlanjut lagi krisis sosial kemudian ke krisis politik.

Akhirnya, dia juga berkembang menjadi krisis total yang melumpuhkan nyaris seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa. Katakan, sektor apa di negara ini yang tidak goyah. Bahkan kursi atau tahta mantan Presiden Soeharto pun goyah, dan akhirnya dia tinggalkan. Mungkin Soeharto, selama sisa hidupnya akan mengutuk devaluasi baht, yang menjadi pemicu semua itu.

Efek bola salju

Faktor yang mempercepat efek bola salju ini adalah menguapnya dengan cepat kepercayaan masyarakat, memburuknya kondisi kesehatan Presiden Soeharto memasuki tahun 1998, ketidakpastian suksesi kepemimpinan, sikap plin-plan pemerintah dalam pengambilan kebijakan, besarnya utang luar negeri yang segera jatuh tempo, situasi perdagangan internasional yang kurang menguntungkan, dan bencana alam La Nina yang membawa kekeringan terburuk dalam 50 tahun terakhir.

Dari total utang luar negeri per Maret 1998 yang mencapai 138 milyar dollar AS, sekitar 72,5 milyar dollar AS adalah utang swasta yang dua pertiganya jangka pendek, di mana sekitar 20 milyar dollar AS akan jatuh tempo dalam tahun 1998. Sementara pada saat itu cadangan devisa tinggal sekitar 14,44 milyar dollar AS.

Terpuruknya kepercayaan ke titik nol membuat rupiah yang ditutup pada level Rp 4.850/dollar AS pada tahun 1997, meluncur dengan cepat ke level sekitar Rp 17.000/dollar AS pada 22 Januari 1998, atau terdepresiasi lebih dari 80 persen sejak mata uang tersebut diambangkan 14 Agustus 1997.

Rupiah yang melayang, selain akibat meningkatnya permintaan dollar untuk membayar utang, juga sebagai reaksi terhadap angka-angka RAPBN 1998/ 1999 yang diumumkan 6 Januari 1998 dan dinilai tak realistis.

Krisis yang membuka borok-borok kerapuhan fundamental ekonomi ini dengan cepat merambah ke semua sektor. Anjloknya rupiah secara dramatis, menyebabkan pasar uang dan pasar modal juga rontok, bank-bank nasional dalam kesulitan besar dan peringkat internasional bank-bank besar bahkan juga surat utang pemerintah terus merosot ke level di bawah junk atau menjadi sampah.

Puluhan, bahkan ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat, bertumbangan. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga insolvent atau nota bene bangkrut.

Sektor yang paling terpukul terutama adalah sektor konstruksi, manufaktur, dan perbankan, sehingga melahirkan gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK). Pengangguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yakni sekitar 20 juta orang atau 20 persen lebih dari angkatan kerja.

Akibat PHK dan naiknya harga-harga dengan cepat ini, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50 persen dari total penduduk. Sementara si kaya sibuk menyerbu toko-toko sembako dalam suasana kepanikan luar biasa, khawatir harga akan terus melonjak.

Pendapatan per kapita yang mencapai 1.155 dollar/kapita tahun 1996 dan 1.088 dollar/kapita tahun 1997, menciut menjadi 610 dollar/kapita tahun 1998, dan dua dari tiga penduduk Indonesia disebut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam kondisi sangat miskin pada tahun 1999 jika ekonomi tak segera membaik.

Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan, perekonomian yang masih mencatat pertumbuhan positif 3,4 persen pada kuartal ketiga 1997 dan nol persen kuartal terakhir 1997, terus menciut tajam menjadi kontraksi sebesar 7,9 persen pada kuartal I 1998, 16,5 persen kuartal II 1998, dan 17,9 persen kuartal III 1998. Demikian pula laju inflasi hingga Agustus 1998 sudah 54,54 persen, dengan angka inflasi Februari mencapai 12,67 persen.

Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) anjlok ke titik terendah, 292,12 poin, pada 15 September 1998, dari 467,339 pada awal krisis 1 Juli 1997. Sementara kapitalisasi pasar menciut drastis dari Rp 226 trilyun menjadi Rp 196 trilyun pada awal Juli 1998.

Di pasar uang, dinaikkannya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi 70,8 persen dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) menjadi 60 persen pada Juli 1998 (dari masing-masing 10,87 persen dan 14,75 persen pada awal krisis), menyebabkan kesulitan bank semakin memuncak. Perbankan mengalami negative spread dan tak mampu menjalankan fungsinya sebagai pemasok dana ke sektor riil.

Di sisi lain, sektor ekspor yang diharapkan bisa menjadi penyelamat di tengah krisis, ternyata sama terpuruknya dan tak mampu memanfaatkan momentum depresiasi rupiah, akibat beban utang, ketergantungan besar pada komponen impor, kesulitan trade financing, dan persaingan ketat di pasar global.

Selama periode Januari-Juni 1998, ekspor migas anjlok sekitar 34,1 persen dibandingkan periode sama 1997, sementara ekspor nonmigas hanya tumbuh 5,36 persen.

Anomali

Krisis kepercayaan ini menciptakan kondisi anomali dan membuat instrumen moneter tak mampu bekerja untuk menstabilkan rupiah dan perekonomian. Sementara di sisi lain, sektor fiskal yang diharapkan bisa menjadi penggerak ekonomi, juga dalam tekanan akibat surutnya penerimaan.

Situasi yang terus memburuk dengan cepat membuat pemerintah seperti kehilangan arah dan orientasi dalam menangani krisis. Di tengah posisi goyahnya, Soeharto sempat menyampaikan konsep "IMF Plus", yakni IMF plus CBS (Currency Board System) di depan MPR, sebelum akhirnya ide tersebut ditinggalkan sama sekali tanggal 20 Maret, karena memperoleh keberatan di sana-sini bahkan sempat memunculkan ketegangan dengan IMF, dan IMF sempat menangguhkan bantuannya.

Ditinggalkannya rencana CBS dan janji pemerintah untuk kembali ke program IMF, membuat dukungan IMF dan internasional mengalir lagi. Pada 4 April 1998, Letter of Intent ketiga ditandatangani. Akan tetapi kelimbungan Soeharto, telah sempat menghilangkan berbagai momentum atau kesempatan untuk mencegah krisis yang berkelanjutan.

Bahkan memicu adrenali masyarakat, yang sebelumnya terbilang tenang menjadi beringas. Kemarahan rakyat atas ketidakberdayaan pemerintah mengendalikan krisis di tengah harga-harga yang terus melonjak dan gelombang PHK, segera berubah menjadi aksi protes, kerusuhan dan bentrokan berdarah di Ibu Kota dan berbagai wilayah lain, yang menuntun ke tumbangnya Soeharto pada 21 Mei 1998.

Tragedi berdarah ini memicu pelarian modal dalam skala yang disebut-sebut mencapai 20 milyar dollar AS, gelombang hengkang para pengusaha keturunan, rusaknya jaringan distribusi nasional, terputusnya pembiayaan luar negeri, dan ditangguhkannya banyak rencana investasi asing di Indonesia.

Munculnya pemerintahan baru yang tidak memiliki legitimasi, dan lebih sibuk dengan manuvernya untuk merebut hati rakyat, tidak banyak menolong keadaan. Pemburukan kondisi ekonomi, sosial, dan politik dengan cepat ini setidaknya terus berlangsung hingga kuartal kedua, bahkan kuartal ketiga 1998. Begitulah, kita telah menyaksikan episode terburuk perekonomian sepanjang tahun 1998.

Pemulihan Ekonomi Tergantung Penyelesaian Agenda Politik

PELAKSANAAN agenda politik secara aman, lancar, tertib dan sesuai dengan aspirasi sebagian besar rakyat merupakan keharusan, apabila diinginkan ekonomi akan segera pulih. Sebaliknya, bila kerusuhan sosial terus meningkat dan pemilu tidak dapat dilaksanakan, maka pemulihan ekonomi sulit diharapkan dalam waktu cepat.

Laksamana Sukardi menilai, kondisi perekonomian di tahun 1999 berada dalam situasi yang kritis. Artinya perekonomian nasional berada di persimpangan jalan antara kemungkinan terjadi recovery dan kehancuran. Peluangnya separuh-separuh.

Investor bersikap menunggu, apakah pemilu akan berjalan jujur dan adil, serta demokratis. Kedua hal itu menjadi syarat pembentukan pemerintahan yang bisa dipercaya rakyat. Apabila demikian, maka dengan cepat ekonomi Indonesia akan pulih, karena investor pasti akan datang kembali ke Indonesia.

Oleh karena itu, keinginan seluruh rakyat Indonesia yang menghendaki agar pemilu berlangsung jujur, adil, transparan, serta demokratis harus benar-benar dilaksanakan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Menurut dia, masuknya aliran modal asing sebagai jalan terbaik dalam pemulihan ekonomi hanya bisa terjadi kalau ada pemerintahan yang bersih, didukung rakyat, adanya kepastian hukum dan sistem peradilan yang independen.

Suksesnya pemilu dan Sidang Umum di tahun 1999 tidak serta merta terjadi begitu saja. Mulai saat ini harus dipersiapkan. Namun bayangan kegagalan masih berkecamuk, mengingat intensitas kekerasan dan kejadian perampokan dan penjarahan yang membuat masyarakat merasa tidak aman masih sering terjadi.

MELIHAT pentingnya faktor penyelesaian politik, rencana pegelaran dialog nasional sangat penting. Melalui dialog nasional tersebut, diharapkan tokoh-tokoh yang terlibat menyamakan persepsi bahwa pemilu harus berhasil dan sesuai aspirasi rakyat.

Kita sama-sama menghendaki, pemerintahan yang demokratis dan didukung rakyat. Pemerintah sekarang berani mengakui, bahwa dirinya bersifat transisi dan hanya mempersiapkan pemerintahan yang akan datang. Sebaliknya tokoh-tokoh nasional juga harus berani mengakui pemerintahan yang sekarang.

Selain masalah politik, pembenahan sektor ekonomi terutama moneter juga sangat penting, apabila kita mengharapkan pemulihan ekonomi. Dua persoalan mendasar yang harus diselesaikan, yaitu restrukturisasi perbankan dan utang luar negeri.

Pertama, restrukturisasi perbankan harus berhasil. Rencana rekapitalisasi kemungkinan besar tidak akan berhasil. Oleh karena itu, pemerintah harus berani melakukan penutupan bank-bank yang memang tidak solvent, dengan demikian hanya tinggal sedikit bank yang kuat dan profesional.

Sebelum mengatasi perbankan swasta, bank-bank BUMN harus juga selesai. Apabila persoalan bank ini tidak diselesaikan, maka tidak akan ada kegiatan ekonomi, karena tidak ada kodal kerja dan perdagangan.

Kedua, masalah utang luar negeri pemerintah dan swasta. Seberapa jauh masalah utang LN ini bisa diselesaikan. Sebab, mengakhiri krisis perbankan kepercayaan dunia internasional terhadap pemerintah tergantung dari penyelesaian utang tersebut. Bila default, maka kredibilitas turun dan investor enggan masuk ke Indonesia.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Haryadi B Sukamdani mengatakan, sebagai pengusaha pihaknya memang harus optimis. Tetapi kalau melihat di lapangan terutama perkembangan politik yang ada, maka yang ada hanya rasa waswas dan gamang. Sebab pemilu masih jauh, tetapi intensitas kekerasan sudah cukup tinggi, apalagi nanti kalau mendekati kampanye dan pemilu.

Oleh karena itu sikap para pengusaha di tahun 1999 ini sudah pasti akan menunggu. Investasi tidak akan ada. Yang terjadi, para pengusaha hanya meningkatkan volume dan penjualan dari yang sudah ada. Pengusaha tidak mungkin mengandalkan pasar domestik, tetapi luar negeri.

Kalau penyelesaian politiknya baik, masyarakat mendukung pemerintahan yang baru, maka ekonomi akan cepat sekali kembalinya. Yang dikhawatirkan ialah kalau terjadi gejolak sosial akibat kegagalan pemilu yang tidak menampung aspirasi rakyat.

Dengan pertimbangan-pertimbangan seperti itu, dunia usaha melihat kondisi perekonomian nasional di tahun 1999 ibarat seseorang yang sedang mengendarai mobil di tengah "kabut tebal". Kabut tebal (situasi sosial politik-Red) menyebabkan pengendara (baca: pengusaha) tidak bisa memandang jauh ke depan. Atas dasar pertimbangan keselamatan, maka pengendara itu tidak punya pilihan lain kecuali menghentikan perjalanannya dan menunggu sampai kabut itu berlalu.

Itu berarti, pemerintah sejak sekarang harus bisa menyelesaikan semua persoalan ekonomi dan politik yang di dalam negeri. Transparan, tegas, jelas, dan cepat diperlukan. Jangan sampai malah menimbulkan kebingungan dan ketidakjelasan.

Sistem ekonomi Indonesia pada masa Orde Baru bersifat “birokrat otortarian” yang ditandai dengan pemusatan kekuasaan dan partisipasi dalam membuat keputusan-keputusan nasional hamper sepenuhnya berada di tangan penguasa bekerjasama dengan kelompok militer dan kaum teknokrat.

Kebijaksanaan ekonomi yang selama ini diterapkan yang hanya mendasarkan pada pertumbuhan dan mengabaikan prinsip nilai kesejahteraan bersama seluruh bangsa, dalam kenyataannnya hanya menyentuh kesejahteraan sekelompok kecil orang bahkan pengusaha. Krisis ekonomi yang terjadi di dunia dan melanda Indonesia mengakibatkan ekonomi Indonesia terpuruk sehingga kepailitan yang diderita oleh para pengusaha harus di tanggung oleh rakyat.

Dalam kenyataannnya sector ekonomi yang justru mampu bertahan pada masa krisis dewasa ini adalah ekonomi kerakyatan yaitu ekonomi yang berbasis pada usaha rakyat. Langkah yang strategis dalam upaya melakukan reformasi ekonomi yang berbasis pada ekonomi rakyat yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila yang mengutamakan kesejahteraan seluruh bangsa adalah sebagai berikut : “Keamanan pangan dan mengembalikan kepercayaan yaitu dilakukan dengan program “social safety net” yang lebih dikenal dengan program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah maka pemerintah harus secara konsisten menghapus KKN serta mengadili oknum-oknum yang melakukan pelanggaran. Ini akan memberikan kepercayaan dan kepastian usaha”.

Kesimpulan

Peristiwa 1 Juni di Monas Ujian Bagi Pancasila

Peristiwa penyerangan FPI atas sekelompok massa sesama bangsa Indonesia,yang dianggap musuh oleh FPI, jelas merupakan kejadian yang bermakna ganda. Bukan kebetulan bahwa FPI memilih hari lahir Pancasila 1 Juni, sebagai saat untuk bikin ulah sekaligus unjuk kekuatan. Kejadian tersebut sekaligus ujian bagi pemerintah dan aparatnya, apakah betul Pancasila masih menjadi Dasar Negara.

Kejadian tersebut jelas-jelas mencederai nilai-nilai luhur yang dicanangkan pendiri bangsa.

Sila ke-1, Ketuhanan yang Maha Esa. Mereka yang menyerang kelompok lain mengatasnamakan agama sebagai alasan untuk menganiaya sesama manusia. Benarkah itu? Saya yakin tidak ada satu agama pun yang melegalkan penganiayaan terhadap sesama demi nama-Nya. Tuhan Maha Besar tidak butuh campur tangan manusia untuk membela nama-Nya.

Sila ke-2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Jelas, tindakan FPI melampaui batas kewajaran. Seolah-olah mereka adalah kelompok yang tak berperikemanusiaan.

Sila ke-3, Persatuan Indonesia. Menyadari bangsa ini terdiri dari berbagai unsur maka sila ini menjadi sangat relevan untuk mengajak seluruh elemen bangsa yang berbeda untuk bersatu demi negara Indonesia. Bukannya gontok-gontokan sesama bangsa.

Sila ke-4, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dalam sila ini ingin mengajak bangsa Indonesia mengedepankan musyawarah. Bukan adu otot dalam menyelesaikan perbedaan.

Sila ke-5, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya sekelompok orang. Bagaimana bisa adil, jika kita selalu mau menang sendiri. Mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

Saat ini, adalah waktu yang tepat buat kita semua untuk melihat kembali implementasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wahai pemimpin negara. Apakah Pancasila masih menjadi Dasar Negara Indonesia?

Kondisi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dewasa ini serta penyimpangan implementasi Pancasila pada masa Orde Lama dan Orde Baru yang menimbulkan gerakan reformasi di Indonesia sehingga terjadilah suatu perubahan yang cukup besar dalam berbagai bidang terutama bidang kenegaraan, hukum maupun politik. Maka dari itu sebagai warganegara yang baik sebaiknya kita tahu beberapa hal-hal sebagai berikut :

1. Dalam penegakan hak asasi manusia kita sebagai mahasiswa harus bersifat objektif dan benar-benar berdasarkan kebenaran moral demi harkat dan martabat manusia bukan karena kepentingan politik.

2. Perlu disadari bahwa dalam penegakan hak asasi manusia tersebut pelanggaran hak asasi manusia dapat dilakukan seseorang, kelompok orang termasuk aparat Negara, penguasa Negara baik disengaja ataupun tidak (UU No. 39 tahun 1999).

3. Sistem ekonomi harus berdasarkan pada nilai dan upaya terwujudnya kesejahteraan seluruh bangsa maka peningkatan kesejahteraan akan dirasakan oleh sebagian besar rakyat sehingga dapat mengurangi kesenjangan ekonomi.

4. Kehidupan beragama dalam Negara Indonesia dewasa ini harus dikembangkan kearah terciptanya kehidupan bersama yang penuh toleransi, saling menghargai berdasarkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.

5. Rehabilitasi dan pemulihan ekonomi. Hal ini dilakukan dengan menciptakan kondisi kepastian usaha yaitu dengan diwujudkannya perlindungan hukum serta undang-undang persaingan yang sehat

Penulis berharap semoga keberadaan karya tulis ini dapat diterima sebagai salah satu kajian sederhana tentang perlunya kita memahami Pancasila dan melaksanakannya secara murni dan konsekuen.



What's Trending?

Tags

Text Widget 2